Ilmu Ukur Tanah, Surveyor, dan Segala Dinamika di Dalamnya

Halo, sahabat geodet. Kali ini WGS-engineering akan membahas mengenai apa itu yang dimaksud dengan ilmu ukur tanah. Semoga berguna bagi kalian yang entah sekarang sedang menempuh bangku perkuliahan yang mana sedang ada mata kuliah ini atau entah bagi kalian yang sedang di sekolah menengah yang kebetulan sedang mencari referensi mengenai ilmu ukur tanah, atau bagi siapa saja yang saat ini sedang membaca tulisan dari kami. Oke jadi begini….

Ilmu ukur tanah adalah salah satu keilmuan yang mana merupakan cabang dari keilmuan yang lebih luas, Geodesi , yang mana ilmu ukur tanah ini khusus mempelajari sebagian kecil dari permukaan bumi dengan cara melakukan pengukuran langsung di permukaannya. Pengukuran yang di lakukan terhadap titik-titik detail alam maupun buatan manusia meliputi posisi horizontal (x,y) maupun posisi vertikal nya (z) yang diferensikan terhadap permukaan air laut rata-rata.

Menurut kamus besar Wikipedia,  Ilmu Ukur Tanah adalah sebuah metode pengukuran titik-titik dengan memanfaatkan jarak dan sudut di antara setiap titik tersebut pada suatu wilayah dengan cermat. Berbagai titik tersebut biasanya adalah permukaan bumi dan digunakan untuk membuat sebuah peta, batas wilayah suatu lahan, lokasi konstruksi, dan tujuan lainnya. Seorang yang mengerjakan pekerjaan yang terkait dengan keilmuan Ilmu Ukur Tanah, kita sebut dia seorang SURVEYOR. 

Dalam pengertian yang lebih umum pengukuran tanah dapat dianggap sebagai disiplin ilmu yang meliputi semua metode untuk menghimpun dan melalukan proses informasi dan data tentang bumi dan lingkungan fisis. Dengan perkembangan teknologi saat ini, metoda terestris konvensional telah dilengkapi dengan metode pemetaan udara dan satelit yang berkembang melalui program-program pertanahan dan ruang angkasa.

Lantas apa tugas seorang SURVEYOR?

Secara umum dan garis besar, tugas seorang surveyor diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan analisis dan pengambilan keputusan. Termasuk di dalamnya metode pengukuran, peralatan, pengikatan titik, dsb.
  2. Melaksanakan pekerjaan pengukuran di lapangan beserta akuisisi datanya secara baik, benar, dan lengkap.
  3. Memproses data survey menjadi data yang bisa digunakan untuk keperluan yang lebih luas, seperti penentuan volume, penentuan luasan, dan lain sebagainya.
  4. Penyajian data. Selain melaksanakan pengukuran, memprosesnya dengan baik, seorang Surveyor juga dituntut agar bisa menyajikan data dengan baik. Entah peta dalam bentuk sederhana atau dalam bentuk yang lebih kompleks lagi seperti penyajian gambar rencana, penyajian kontur, penyajian penampang memanjang dan melintang, dan lain sebagainya.
Total Station, salah satu equipment yang digunakan dalam pengukuran.

Total Station, salah satu equipment yang digunakan dalam pengukuran.

Untuk teknis dalam pengambilan data, secara umum dapat disederhanakan dalam beberapa tahapan, antara lain:

  1. Orientasi lapangan. Kenapa perlu orientasi? hal ini diperlukan agar mempermudah menggunakan metode seperti apa dan meng-estimasi kapan pekerjaan ini akan selesai dan segala keputusan apa yang akan diambil setelah ini.
  2. Kerangka Kontrol. Ibarat dalam bangunan, kerangka kontrol merupakan pondasinya. Semakin bagus dan akurat kerangka kontrolnya, maka akan semakin bagus pula hasil dari pengukuran yang kita kerjakan. Kerangka kontrol sendiri dibagi menjadi Kerangka Kontrol Horizontal (KKH) dan satu lagi Kerangka Kontrol Vertikal (KKV). Kita akan bahas mengenai kerangka kontrol secara detail di postingan selanjutnya.
  3. Melakukan proses pengukuran. Setelah memiliki kerangka kontrol yang dapat dipertanggung jawabkan, langkah selanjutnya adalah melaukan proses pengambilan data detail dan situasi. Setiap objek yang direkam baik menggunakan alat ukur manual, maupun elektronis nantinya akan disimpan dan diproses untuk menghasilkan data yang akurat.
  4. Pemrosesan data. Pemrosesan data yang dimaksud disini bisa untuk memproses Kerangka Kontrol maupun data pengukuran detail. Dari hasil processing data dapat kita ketahui seberapa besar nilai ketelitian hasil pengukuran yang sudah kita kerjakan. Di postingan selanjutnya kita akan membahas kaitannya antara hasil pengujian secara statitik dengan data hasil pengukuran.
  5. Setelah data di-proses, langkah selanjutnya adalah penyajian. Data kita sajikan entah itu dalam bentuk peta, baik peta topografi, peta situasi, peta kontur, dll, atau penyajian dalam bentuk hitungan seperti perhitungan volume, luasan, dsb. Dari hasil penyajian data ini dapat digunakan untuk acuan pekerjaan selanjutnya.

Di pekerjaan proyek fisik maupun pertambangan sangat memerlukan data yang akurat untuk pembangunan jalan, jembatan, saluran irigasi, lapangan udara, pehubungan, sistem penyediaan air bersih pengkaplingan tanah perkotaan, jalur pipa, penambangan, terowongan, dsb. Semua itu diperlukan pengukuran tanah yang hasilnya beruapa peta untuk perencanaan. Agar hasilnya dapat dipertanggung jawabkan maka pengkuran harus dilakukan secara benar, tepat dan akurat. Hal ini perlu sekali diketahui baik oleh para pelaku di dalamnya.

Sekian yang mungkin dapat kami sampaikan, adapun saran dan kritik dapat disampaikan melalui kolom “contact us”

Terima kasih, dan sampai berjumpa lagi di postingan selanjutnya.

Salam GEODESI. No Map No Culture !

(Visited 195 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *