Perempuan, Geodesi, dan Dinamikanya dalam dunia Survey Pemetaan di Indonesia

jasaukurtanah.com – Mungkin banyak yang belum tahu tentang apa itu Geodesi. Banyak orang awam yang gagal mengintepretasikan secara jelas mana itu Geodesi mana itu Geografi atau mana itu Geologi dan keilmuan dengan marga “geo” lainnya.
Mungkin memang benar diantara kelurga bermarga “geo”, Geodesi merupakan keilmuan yang kurang populer dibanding saudara-saudaranya.
Seperti dikutip dalam tulisan berikut ini, Geodesi adalah sebuah keilmuan yang mempelajari tentang penentuan posisi baik di darat, laut, maupun udara. Segala sesuatu yang ada diatas permukaan bumi dan menyangkut tentang penentuan posisi adalah ranahnya Geodesi. 

Dalam dunia Geodesi umumnya didominasi oleh kaum adam. Hal ini bisa dimaklumi karena pekerjaan Geodesi adalah menyangkut tentang pekerjaan lapangan. Atau lazim dikenal orang dengan Survey dan Pemetaan.
Akan tetapi baik di tingkat sekolah seperti sekolah menengah kejuruan dengan konsentrasi survey pemetaan atau sampai tingkat perguruan tinggi di Teknik Geodesi tidak sedikit kaum hawa yang juga turut serta menimba ilmu ini.

Gambar 1. Dita Febrina, Ladies Geodet WGS-engineering

Seperti dituturkan oleh Dita Febrina, salah seorang bagian dari WGS-engineering yang belum lama kemarin baru saja menyelesaikan studi Magisternya di Teknik Geomatika Jurusan Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Beliau mengungkapkan bahwa salah satu alasannya untuk memilih Geodesi untuk melanjutkan pendidikannya adalah iseng, karena memang sejak SMA dia sama sekali tidak tahu tentang Geodesi dan hanya kebetulan saja waktu itu ada program PMDK dari Prodi D3 Teknik Geomatika UGM sehingga memang belum mengetahui seluk beluk Geodesi sedari dulu.
Perempuan yang sedang disibukkan dengan divisi pelatihan di WGS-engineering ini menuturkan bahwa tantangan terbesarnya ketika berkarir di dunia survei dan pemetaan adalah harus berani berpanas panasan. Menurutnya tidak ada duka yang berarti dengan dia memutuskan melanjutkan studinya di Geodesi dulu karena pada akhirnya dia dipertemukan dengan jodohnya yang juga sesama orang Geodesi.

Gambar 2. Atik Yulianti

Lain dengan Dita, lain pula dengan Atik Yulianti, seorang alumnus Diploma 3 Teknik Geomatika Universitas Gadjah Mada yang kemudian meneruskan studi S1 nya di Teknik Geodesi ITN Malang ini mengungkapkan bahwa alasannya dulu mengapa beliau memilih geodesi adalah juga mengikuti PMDK sama seperti Dita.
Hanya saja pada mulanya Atik berpandangan kalau Geodesi adalah seputar matematika dan geografi sehingga dia tertarik dan memutuskan untuk memilih Geodesi. Biarpun setelah kuliah merasa kaget karena ilmu yang dipelajari tidak sesuai dengan ekspektasi melainkan ilmu membuat peta, namun seiring berjalannya waktu pada akhirnya dia menikmati dengan Geodesi.

Perempuan yang berpandangan awal jika setelah lulus dari Geodesi akan bekerja di perusahaan tambang emas atau batubara ini sekarang disibukkan dengan pekerjaannya di sebuah perusahaan yang melayani jasa jual beli alat survei pemetaan mulai dari waterpass, total station, robotic total station, gps geodetic, drone, laser scanner serta beberapa software pemetaan sebagai technical support. Dimana job desc Atik sendiri adalah memberikan training dan mendemonstrasikan alat serta software yang dijual oleh tim marketing di seluruh wilayah Indonesia.

Sebelum bekerja di perusahaan sekarang, Atik juga sempat bekerja di salah satu perusahaan kelapa sawit di Kalimantan. Menurutnya dunia Geodesi sudah memberikan dia banyak sekali cerita dan pengalaman yang berharga mulai dari ilmu yang dia dapat selama perkuliahan sampai hingga kini dia bekerja sebagai staff technical support.
Dia juga menuturkan bahwa pekerjaan ini membuatnya memiliki banyak relasi dan teman dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Tantangan terbesarnya selama menjadi ladies Geodet adalah menjadi minoritas diantara mayoritas.
Dunia Geodesi identik dengan laki-laki dimana tidak jarang dia selalu dipandang sebelah mata, padahal menurutnya biarpun dia merupakan seorang wanita hal tersebut juga tidak menjadi jaminan kalau pekerjaan yang dia kerjakan tidak lebih baik dari kaum laki-laki. Perempuan kelahiran Purwokerto ini juga bercita-cita pada suatu ketika ingin membuat sebuah perusahaan yang concern di bidang survei pemetaan serta juga ingin mengabdikan diri kepada negara sebagai tenaga pengajar atau dosen di perguruan tinggi sehingga bisa turut serta berbagi ilmu dan pengalaman kepada generasi-generasi muda di Indonesia.

Gambar 3. Nur Frida Widiyanti

Pun demikin dengan Nur Frida Widiyanti, salah seorang staff di divisi survey PT Trubaindo Coal Mining, ITM Banpu Group yang harus bekerja jauh dari keluarga dan berada di tengah pertambangan batu bara.
Baginya bukan menjadi masalah harus ikut berbaur bersama orang orang yang memang pekerjaan ini didominasi oleh kaum adam.

Menurutnya alasan mengapa Ia merasa nyaman dengan pekerjaannya yang tak lazim bagi perempuan disekitarnya adalah karena ia sendiri menyukai hal hal yang berbau tantangan terutama dalam hal pekerjaan. Tantangan terbesarnya selama berkarir di dunia survei pemetaan menurut Frida adalah tidak bisa seperti perempuan sebayanya yang sibuk dengan aktivitas milenial.

Dulunya Frida mengetahui tentang geodesi dari orang Teknik Sipil dan pilihan karirnya pada saat itu adalah Badan Pertanahan Nasional atau proyek proyek infrastruktur seperti engineering kebanyakan. Perempuan yang dulunya juga sempat menjadi staff quantity survey di sebuah perusahaan properti di Surabaya ini pada akhirnya memutuskan untuk berkarir di dunia pertambangan.

Gambar 4. Noviani Astuti (kiri)

Sedangkan menurut narasumber kami selanjutnya, yaitu Noviani Astuti atau lebih akrab dikenal tutik, Geodesi adalah sudah seperti dunia yang tidak bisa dipisahkan lagi dari hidupnya. Perempuan yang juga merupakan alumnus D3 Teknik Geomatika UGM dan S1 Teknik Geodesi ITN Malang ini berujar bahwa dulunya Ia mengetahui Geodesi dari sekedar browsing di internet sehingga kemudian memutuskan untuk berkarir di dunia survei pemetaan.

Menurut pengakuannya dulunya Tutik hanya mengetahui kalau geodesi hanya merupakan ilmu tentang bumi, rasa ingin tahu yang besar yang pada akhirnya membawanya untuk memantapkan pilihannya kepada dunia geodesi.
Tantangan terbesarnya selama berkarir di dunia ini adalah terkadang harus berada jauh dari keluarga dan rumah ketika sedang bertugas. Perempuan yang dulunya berkarir di salah satu konsultan pemetaan di Yogyakarta ini sekarang memilih untuk cuti sementara dari dunianya karena sedang mengasuh sang buah hati yang masih kecil. Dia juga menuturkan bahwa jika nanti anaknya sudah mulai beranjak dewasa bukan tidak mungkin akan kembali terjun meneruskan karirnya di dunia survei dan pemetaan. Hal ini sejalan dengan sang suami yang juga merupakan alumnus Geodesi UGM yang kini berkarir di salah satu perusahaan offshore di Indonesia. 

Selanjutnya ada cerita dari Retno Astrini. Mbak Retno, sapaan akrab beliau juga sering membantu wgs-engineering terutama ketika ada pekerjaan terkait sistem informasi geografis karena memang disitulah spesialisnya. Perempuan yang kini masih menyelesaikan studi Magisternya di Teknik Geomatika Universitas Gadjah Mada ini menuturkan bahwa awal mula perkenalannya dengan Geodesi sudah sejak SMA, dimana kebetulan ada tawaran masuk dari Institut Teknologi Nasional Malang (ITN) yang bisa masuk ke universitas tersebut tanpa tes dan gratis biaya SPP selama satu tahun. Dan kebetulan jurusan yang ditawarkan pada saat itu adalah Planologi dan Geodesi. “Meskipun waktu itu saya engga tau apapun tentang geodesi, tapi saya memilih jurusan itu untuk backup kalau saya engga keterima di Universitas Brawijaya jurusan Arsitektur. Eh ternyata engga lulus SNMPTN” ujar Mbak Retno. 

Gambar 5. Mbak Retno Astrini

 

Ketika ditanya apa pandangan awal setelah lulus kuliah pada mulanya ia berorientasi ingin menjadi PNS di daerah asal. “Tapi pada saat itu lingkungan pemerintah di daerah belum ada formasi khusus untuk Geodesi. Jadi daripada nunggu saya coba beranikan diri untuk kerja di salah satu perusahaan vendor alat survey sebagai support engineering” kata Mbak Retno sembari menjelaskan bahwa itulah awal mula karirnya di dunia survei pemetaan hingga kini fokus sebagai trainer di pengembangan kapasitas SDM untuk pengelolaan dan pemanfaatan informasi geospasial.

Perempuan yang kini selain sibuk menyelesaikan studi S2 nya di UGM ini juga tergabung sebagai asisten peneliti di Pusat Pengembangan dan Pemanfaatan Informasi Data Spasial (PPIDS) Universitas Gadjah Mada dan terkadang juga berpartisipasi sebagai GIS Trainer di WGS-engineering.

Menurutnya tantangan terbesarnya selama menjadi ladies geodet  adalah menyeimbangkan fisik, pikiran dan kesabaran secara bersamaan untuk hasil pekerjaan yang berkualitas.. “Kesabaran secara kebersamaan untuk memperoleh hasil pekerjaan yang berkualitas itu tidak mudah” ujar Mbak Retno menambahkan. Dia juga berencana tetap berkarir di dunia survey dan pemetaan terutama di bidang managemen data. Karena data dan informasi yang sudah dihasilkan oleh rekan-rekan praktisi di bidang survey terestris, gnss, fotogrametri, hidrografi, dan lain sebagainya akan sangat sayang sekali kalau tidak ditata, dikelola, dan diintegrasikan untuk digunakan secara bersama untuk berbagai keperluan. “Kedepannya semoga dengan ilmu dan pengalaman yang saya dapat, saya bisa meningkatkan kesadaran akan pentingnya berbagi data untuk dapat digunakan bersama dalam kepentingan pembangunan” ujarnya.

Gambar 6. Anindya Wening Melati

Cerita berbeda datang dari Anindya Wening Melati. Perempuan yang lebih dikenal dengan nama Imel ini sekarang lebih memilih berkarir di dunia olahraga.

Imel merupakan salah satu alumnus yang juga dari Universitas Gadjah Mada dimana pada masa kuliah dia sempat mengikuti ajang Sea Games dan menyumbangkan medali emas untuk Indonesia di cabang sepatu roda.

Imel bercerita bahwa Ia mengenal Geodesi dari kakaknya. Dan menurut Imel pada waktu itu pilihan karirnya setelah menempuh pendidikan di Geodesi adalah di Badan Pertanahan Nasional atau di pertambangan.

Perempuan yang kini aktif di Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini juga menyatakan kalau banyak orang awam yang belum paham tentang apa itu Geodesi sehingga tak jarang dia juga harus sedikit kebingungan jika dipaksa untuk menjelaskan tentang geodesi kepada orang awam. 

 

 


BACA JUGA : 


Demikian tadi sekelumit cerita dari perempuan perempuan yang terjun ke dunia Geodesi. Tak lazim memang, tapi di jaman yang modern ini hal tersebut bukanlah menjadi masalah berarti.
Seperti ungkapan berikut ini, bekerja jika hanya sekedar bekerja, kera pun juga bekerja. Karena bekerja bukan hanya urusan perut belaka, selalu ada urusan surga dan neraka dibelakangnya.

Jadi apapun itu pilihanmu dalam bekerja, entah itu bagi kaum hawa yang terjun ke dunia pekerjaan dimana didominasi kaum adam atau sebaliknya, bekerja jangan hanya sekedar bekerja. Asalkan diri kita merasa nyaman, mampu bekerja sesuai dengan passion dan hati kita kenapa tidak.
Seperti beberapa contoh diatas, tidak melulu pekerjaan yang berurusan langsung dengan pekerjaan berat harus dikerjakan oleh kaum laki-laki.

Karena dunia survey dan pemetaan hanya mampu dihuni oleh perempuan perempuan yang tangguh dan bukan untuk perempuan yang manja.

Jaya selalu Geodesi di Indonesia. Jaya selalu survei pemetaan di tanah air. Salam hormat dari kami untuk perempuan perempuan tangguh seperti kalian.

(Visited 1,098 times, 5 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *