Mengenal Fotogrametri, Salah Satu Cabang Keilmuan Geodesi

Geodesi adalah salah satu keilmuan di muka bumi yang paling tua, sangat wajar jika di Geodesi sendiri banyak sekali cabang keilmuannya. Bukan hanya di darat, laut dan udara juga merupakan ranah kekuasaan Geodesi. Seluruh yang ada di bumi, yang menyangkut tentang penentuan posisi adalah ranahnya Geodesi. Salah satu diantaranya adalah Fotogrametri.

Nah, selain harus menguasi teknik pengambilan data atau akuisisi data lapangan di daratan, seorang Geodet atau Surveyor atau apa saja itu sebutannya juga harus menguasai teknik pengambilan data melalui wahana lain, salah satunya dari udara.

Menurut kamus besar Wikipedia, fotogrametri atau aerial surveying merupakan teknik pemetaan menggunakan wahana foto udara. Hasil pemetaan secara fotogrametrik berupa peta foto dan tidak dapat dijadikan dasar atau lampiran penerbitan peta. Pemetaan secara fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran secara terestris, mulai dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga kepada pengukuran batas tanah. Batas-batas tanah yang diidentifikasi pada peta foto harus diukur di lapangan secara terestris. Menurut Van Hoeve Fotogrametri adalah suatu metode atau cara untuk mengkonstruksikan bentuk, ukuran dan posisi pada suatu benda yang berdasarkan pemotretan tunggal maupun stereoskopik.

Lain Van Hoeve, lain pula Wolf bercerita. Pada tahun 1993 di bukunya tertulis bahwa Fotogrametri adalah seni, ilmu dan teknologi untuk memperoleh informasi terpercaya tentang objek fisik dan lingkungan melalui proses perekaman, pengukuran, dan interpretasi gambaran fotografik, dan pola radiasi tenaga elektromagnetik yang terekam.

Gambar 1. Ilustrasi Pengambilan Data Pada Pekerjaan Foto Udara

Gambar 1. Ilustrasi Pengambilan Data Pada Pekerjaan Foto Udara

Jika mengacu pada definisi menurut Wolf, pekerjaan dalam Fotogrametri sendiri terbagi dalam dua bagian besar, diantaranya:

A. Metric Fotogrametri

Adalah suatu pekerjaan pengukuran menggunakan wahana pemotretan udara dengan berbagai macam perhitungan untuk menentukan ukuran dan bentuk dari suatu objek. Dengan kata lain, pekerjaan ini bertujuan untuk memperoleh data kuantitatif seperti jarak, sudut, luas dan posisi dari suatu objek. Untuk memperoleh data tersebut diperlukan alat-alat khusus serta pengetahuan dan keterampilan tertentu. Hal ini bertujuan untuk mengetahui hubungan matematis antara sistem foto udara dengan sistem tanah, sehingga ukuran-ukuran di foto dapat dipindahkan ke sistem tanah atau sebaliknya

B. Interpretasi Fotogrametri

Adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengenali suatu objek serta pengidentifikasian dari suatu objek tertentu. Interpretasi foto udara merupakan kegiatan menganalisa citra foto udara dengan maksud untuk mengidentifikasi dan menilai objek pada citra tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip interpretasi. Interpretasi foto merupakan salah satu dari macam pekerjaan fotogrametri.
Dengan kata lain interpretasi foto merupakan kegiatan yang mempelajari bayangan foto secara sistematis untuk tujuan identifikasi atau penafsiran objek.
Interpretasi foto biasanya meliputi penentuan lokasi relatif dan luas bentangan. Interpretasi akan dilakukan berdasarkan kajian dari objek-objek yang tampak pada foto udara. Keberhasilan dalam interpretasi foto udara akan bervariasi sesuai dengan latihan dan pengalaman penafsir, kondisi objek yang di interpretasi, dan kualitas foto yang digunakan. Penafsiran foto udara banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu dalam memperoleh informasi yang digunakan.

Secara umum, fotogrametri merupakan teknologi geo-informasi dengan memanfaatkan data geospasial yang diperoleh melalui pemotretan udara.

Beberapa alasan untuk pemilihan penggunaan metode fotogrametri dibandingkan metode terestris, diantaranya:

  1. Memiliki waktu yang relatif lebih cepat daripada metode terestris
  2. Daya Jelajah yang lebih luas
  3. Cost Operational yang lebih hemat
  4. Data lebih sukar untuk dimanipulasi

Bahan dasar dalam pembuatan produk fotogrametris adalah beberapa kumpulan foto udara yang bertampalan (overlapping) yang diperoleh melalui pemotretan udara pada ketinggian tertentu.

Baca Juga :

  1. Jika Imam-mu adalah seorang Surveyor
  2. Perempuan, Geodesi, dan Dinamikanya dalam dunia Survei Pemetaan di Indonesia

Secara umum metode akuisisi data pada Fotogrametri dibagi menjadi beberapa tahapan, diantaranya:

  • Tahap Persiapan

Tahapan ini penting, mengingat segala sesuatu tentu saja diperlukan persiapan dan orientasi yang matang. Tahapan ini meliputi studi literatur untuk mengumpulkan berbagai referensi yang berhubungan dengan lokasi dan jenis pekerjaan beserta rencananya. Setelah studi literatur baru selanjutnya menuju ke studi lapangan. Disini tim survei akan merencanakan kapan dan darimana pemotretan akan dilakukan, termasuk juga rencana pemasangan titik kontrol di tanah atau Ground Control Point yang biasanya dilakukan dengan pemberian patok dan yang dikombinasikan dengan pengukuran terestris atau pengamatan statik dengan GNSS/GPS Geodetic

  • Tahap Pengumpulan Data

Tahap pengumpulan data meliputi pengambilan foto dari berbagai sudut pemotretan dan mengumpulkan foto-foto tersebut, dan selanjutnya menetapkan titik kontrol dari objek yang diteliti. Dari hasil pemotretan akan didapatkan hasil berupa foto yang akan dipetakan. Hasil yang diperoleh bisa diketahui baik dan tidaknya berasal dari kualtas ketajaman dan kesempurnaan overlap nya. Biasanya, hasil pemotretan memiliki overlap berkisar di angka 60% dan sidelap berkisar 30%. Akan tetapi pada keperluan tertentu hasil overlap dan sidelap bisa diatur sebagaimana yang dibutuhkan.

  • Tahap Pengolahan Data

Tahapan ini juga merupakan salah satu tahapan penting, yang mana prosesnya harus dilakukan dengan sangat teliti untuk menghasilkan peta yang juga memiliki ketelitian yang baik. Proses pengolahan memanfaatkan beberapa perangkat lunak dan hal ini disesuaikan dengan selera dari Geodet tersebut. Beberapa perangkat lunak yang biasa digunakan diantarnya Agisoft, PhotoModeller, Global Mapper, dsb. Dimana pada masing-masing tahapan pengolahan bisa jadi menggunakan perangkat lunak yang berbeda-beda dan dikombinasikan satu sama lain

Beberapa tahapan mulai dari perhitungan triangulasi udara, rektifikasi, orthorektifikasi, mozaik sampai permodelan 3 dimensi akan kita bahas lebih detail pada postingan selanjutnya.

Baca Juga :

  1. Pelatihan UAV untuk Survei dan Pemetaan
  2. Pelatihan GNSS/GPS Geodetik untuk Survei dan Pemetaan
  3. Field Report Pelatihan UAV dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura
  • Tahap Penyajian Data

Setelah tahapan diatas selesai dilewati, tentu saja kita langsung menuju tahapan terakhir yaitu penyajian data. Data yang disajikan bervariasi, tergantung permintaan dari pihak pemberi pekerjaan atau kesepakatan. Hasil akhir dari pekerjaan fotogrametri adalah peta garis dan peta foto yang tentunya sudah ter-ortho mozaik dengan baik. Pada peta garis, detail-detail di lapangan digambarkan dalam bentuk simbol-simbol tertentu sedangkan peta foto merupakan citra yang terekam selama pekerjaan fotogrametri.

Yak, kami rasa untuk sekedar pengenalan tentang fotogrametri sampai disini sudah bisa dianggap cukup. Kami akan terus mengupdate perkembangan tentang geodesi dan segala dinamikanya termasuk metode fotogrametri ini. Jika ingin berdiskusi lebih lanjut atau ada masukan berupa saran dan kritik bisa disampaikan melalui email kami di admin@jasaukurtanah.com

Dan jika diantara para pembaca ada yang membutuhkan jasa pengukuran dan pemetaan bisa menghubungi kami di laman informasi berikut. Salam Survey WGS-engineering

(Visited 933 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *